Kenali Diri Sebelum Memilih: Overview Peminatan Promkes FKM UMJ

2026-01-16 06:17:57 | Diperbaharui: 2026-01-16 06:17:57
Kenali Diri Sebelum Memilih: Overview Peminatan Promkes FKM UMJ
STIFIn Family

Setiap tahun, mahasiswa FKM sampai pada satu fase penting: memilih peminatan. Di titik ini, pertanyaan yang sering muncul bukan hanya “Aku mau ke mana?” tapi juga “Aku sebenarnya siapa?”.

Khusus di peminatan Promosi Kesehatan (Promkes), pertanyaan kedua justru jauh lebih krusial. Karena promkes bukan sekadar soal membuat poster, kampanye, atau media edukasi. Ia adalah soal memahami manusia, perilakunya, konteks sosialnya, dan proses perubahan yang tidak selalu linier.


Promkes Itu Bukan Sekadar Bisa Ngomong

Banyak yang mengira promosi kesehatan cocok untuk mahasiswa yang ekstrovert, jago presentasi, atau aktif di organisasi. Tidak sepenuhnya salah, tapi jelas tidak lengkap.

Dalam praktiknya, promkes menuntut kemampuan:

  • membaca perilaku manusia,

  • memahami determinan sosial kesehatan,

  • menganalisis konteks budaya dan struktural,

  • serta menyusun intervensi berbasis bukti (evidence-based).

Artinya, promkes tidak hanya soal public speaking, tapi juga berpikir sistematis dan reflektif.


Kenal Diri: Titik Awal yang Sering Terlewat

Sebelum memilih peminatan, mahasiswa perlu jujur pada dirinya sendiri. Beberapa pertanyaan reflektif yang layak diajukan:

  • Apakah saya tertarik memahami mengapa orang berperilaku tidak sehat, bukan sekadar menyalahkannya?

  • Apakah saya cukup sabar dengan proses perubahan yang lambat?

  • Apakah saya nyaman bekerja dengan komunitas yang realitasnya kompleks dan tidak ideal?

  • Apakah saya lebih menikmati proses mendampingi daripada sekadar memberi instruksi?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini sering kali lebih menentukan kecocokan dibanding IPK atau pengalaman organisasi.


Ruang Lingkup Promkes: Lebih Luas dari yang Dibayangkan

Peminatan promkes membuka ruang karier yang beragam, antara lain:

  • edukator kesehatan berbasis komunitas,

  • perancang intervensi perubahan perilaku,

  • peneliti perilaku kesehatan,

  • pengembang program promosi dan pencegahan penyakit,

  • hingga praktisi advokasi kebijakan kesehatan.

Semua peran ini membutuhkan satu fondasi yang sama: kemampuan memahami manusia dalam konteksnya.


Promkes dan Tantangan Zaman

Di era media sosial, banjir informasi, dan disinformasi kesehatan, peran promkes justru makin strategis. Tantangannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana membuat informasi bermakna dan mendorong perubahan nyata.

Promkes dituntut adaptif, peka, dan kritis. Tidak semua orang cocok—dan itu tidak apa-apa. Yang penting, pilihan peminatan didasarkan pada kesadaran diri, bukan ikut-ikutan atau sekadar “katanya lebih santai”.


Penutup: Memilih dengan Sadar

Memilih peminatan bukan soal mana yang paling populer atau paling cepat lulus. Ia adalah keputusan awal tentang bagaimana kita ingin berkontribusi dalam dunia kesehatan masyarakat.

Bagi mahasiswa yang tertarik pada manusia, perubahan perilaku, dan proses sosial yang kompleks, promosi kesehatan bisa menjadi rumah belajar yang tepat. Tapi seperti semua pilihan akademik, ia perlu diawali dengan satu hal sederhana namun mendasar: kenal diri sendiri.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar