Pernah nggak sih, kita bilang “Aku cinta kamu”, tapi dalam hati sebenarnya kita juga bingung… cinta yang kayak apa, ya?
Dalam psikologi emosi, khususnya menurut emotion mapping, Love bukan satu perasaan tunggal. Ia adalah emosi primer, semacam payung besar tempat tiga emosi sekunder hidup di bawahnya:
-
Affection (kasih sayang)
-
Lust (gairah)
-
Longing (kerinduan)
Tiga kata itu mungkin terlihat romantis, tapi sebenernya… beda jauh nuansanya.
Kayak minuman kopi.
Semua kopi terasa "kopi", tapi espresso, cappuccino, dan latte rasanya beda, efeknya beda, dan cocoknya diminum dalam situasi yang berbeda.
Begitu juga dengan cinta.
1. Affection — Cinta yang Lembut dan Aman
Ini bentuk cinta yang sering kita temui dalam keluarga sehat, sahabat dekat, atau hubungan jangka panjang yang dewasa.
Ada:
rasa peduli
kenyamanan
kehangatan emosional
Affection (idealnya) muncul dari pengalaman aman di masa kecil — dari sentuhan, pelukan, penerimaan orang tua.
Tapi, kalau di masa kecil kita jarang mendapat pelukan atau validasi, maka sebagai orang dewasa kita bisa merasa gugup saat menerima kasih sayang, bahkan menarik diri ketika orang lain terlalu dekat.
Ini yang dalam psikologi hubungan disebut sebagai avoidant attachment alias “takut dekat”.
2. Lust — Ketertarikan Fisik yang Instan
Ini bukan cuma soal biologis.
Lust adalah energi yang cepat muncul — terutama pada laki-laki, karena otak laki-laki lebih dulu merespons visual dan dopamin.
Bukan salah siapa-siapa. Itu biologi.
Sedangkan pada perempuan, reaksi yang dominan justru oksitosin, hormon bonding, sehingga kedekatan emosional biasanya muncul lebih dulu dibanding ketertarikan fisik.
Itulah kenapa laki-laki kadang bilang “aku tahu aku tertarik sejak pertama lihat”, sementara perempuan cenderung berkata “aku mulai jatuh hati setelah saling kenal.”
Keduanya normal, tapi kadang ketidakpahaman ini bikin komunikasi hubungan jadi absurd.
3. Longing — Rasa Rindu yang Kadang Menipu
Ini emosi yang muncul ketika ada jarak, kehilangan, atau ketidakpastian.
Kadang terasa romantis.
Kadang membuat kita yakin seseorang adalah “takdir.”
Padahal, Longing seringkali lebih dekat dengan unfinished love atau bahkan trauma masa kecil, khususnya jika:
-
Kita terbiasa bertahan dalam cinta yang tidak konsisten
-
Kita tumbuh dalam keluarga yang kasih sayangnya “ada, tapi tidak selalu”
-
Kita terbiasa mengejar, bukan menerima
Dalam situasi ini, rindu bukan bukti cinta — tapi reaksi otak terhadap ketidakpastian.
Mirip merasa kangen pada chat yang “read tanpa balas” — padahal orangnya nggak pernah benar-benar hadir.
Ketika Otak Laki-Laki dan Perempuan Salah Menafsirkan Cinta
Karena perbedaan biologis, budaya, dan pengalaman masa kecil…
Laki-laki kadang mengira Lust = Love
Perempuan kadang mengira Affection = Love
Inner child keduanya kadang mengejar Longing = Love
Maka muncullah hubungan yang penuh sinyal campur aduk seperti:
-
“Dia sayang nggak sih?”
-
“Dia hilang karena sibuk atau nggak peduli?”
-
“Kenapa aku kangen, padahal dia toxic?”
Di titik ini, yang bicara bukan logika, tapi emosi primer dan luka lama.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Cinta bukan cuma kata. Ia adalah bahasa yang bekerja di otak, tubuh, dan sejarah emosional kita.
Kadang cinta terasa:
lembut (affection)
membara (lust)
menyakitkan (longing)
Dan semua itu manusiawi.
Yang penting bukan menghindarinya, tapi menyadari bentuknya.
Karena tanpa bahasa emosi, kita mudah sekali salah tafsir — baik pada diri sendiri, maupun pada orang lain.
Penutup: Pentingnya Edukasi Emosi
Di sekolah, kita belajar matematika, IPA, sejarah.
Tapi siapa yang mengajari kita:
-
cara mengenali emosi?
-
cara menetapkan batasan diri?
-
cara memahami cinta tanpa trauma?
Makanya, perlu ada ruang edukasi yang:
mengajarkan literasi emosi sejak dini
menggabungkan sains otak & realita hubungan
memperkenalkan konsep inner child, attachment style, dan regulasi emosi
membantu guru, orang tua, dan murid membangun hubungan yang sehat
Karena dunia tidak kekurangan orang pintar.
Yang kurang adalah orang yang paham cara mencintai dengan sadar — bukan bereaksi dari luka.
Dan mungkin, itu bisa dimulai… dari belajar membedakan Affection, Lust, dan Longing di dalam diri kita sendiri.
Kalau kamu baca ini dan merasa, “Oh… jadi itu alasannya,”
mungkin kamu baru saja melakukan langkah pertama:
mengenali dirimu sendiri.