Menuju Eliminasi TB 2030, Mungkinkah? Peluncuran Tim Kesmas MPKU PWM DKI Jakarta

2025-11-29 13:00:27 | Diperbaharui: 2025-11-29 13:03:50
Menuju Eliminasi TB 2030, Mungkinkah? Peluncuran Tim Kesmas MPKU PWM DKI Jakarta
Tim Kesmas MPKU PWM DKI Jakarta (Foto: dr. Fifi Maghfirah)

Ada satu penyakit yang mungkin tidak muncul di trending Twitter atau headline media setiap hari, tapi masih menjadi “musuh besar” kesehatan di Indonesia: Tuberkulosis (TB). Bahkan, menurut laporan global, Indonesia masih berada di peringkat ke-2 dunia dengan kasus TB tertinggi.

Pertanyaannya sederhana tapi tajam:
Mungkinkah Indonesia mencapai target eliminasi TB pada 2030?

Jawabannya tidak sesederhana “optimis” atau “pesimis”. Tapi satu hal yang pasti: kita butuh lompatan, bukan lagi langkah kecil.


 Data yang Tidak Bisa Diabaikan

Kementerian Kesehatan menargetkan bahwa pada tahun 2025, 72% kontak serumah pasien TB harus menerima Terapi Pencegahan TB (TPT).
Namun, data terbaru menunjukkan bahwa capaian saat ini baru sekitar 181.724 orang — atau 13,7% dari perkiraan target nasional.

Beberapa provinsi sudah mulai bergerak, tetapi masih banyak daerah yang masih berada di zona merah capaian rendah (<20%). Gap antara target dan realita masih jauh, dan tanpa percepatan, target 2030 jelas berat dicapai.

TB bukan hanya persoalan medis. TB adalah:

Karena itu, strategi medis saja tidak cukup — harus ada gerakan sosial.


 Muhammadiyah Turun Tangan: Komunitas Menjadi Kunci

Di sinilah kabar baik muncul. Pada 2025 ini, PWM Muhammadiyah DKI Jakarta resmi meluncurkan Tim Kesehatan Masyarakat (KESMAS).
Langkah ini bukan seremoni biasa, tapi strategi untuk mengubah pendekatan TB dari program berbasis fasilitas menjadi gerakan berbasis komunitas.

Landasan kolaborasinya pun jelas:

  • UU Kesehatan 17/2023 → menegaskan peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan

  • PP 28/2024 → memperkuat kemitraan organisasi masyarakat

  • MoU Kemenkes x Muhammadiyah (2023) → memastikan kerja sama konkret di lapangan

Muhammadiyah memiliki salah satu jaringan sosial terbesar di Indonesia: sekolah, kampus, masjid, pesantren, rumah sakit, sampai ke tingkatan ranting desa/kelurahan. Ini artinya: akses langsung ke masyarakat yang paling membutuhkan intervensi.


 Peran Dibagi: Agar Tidak Jalan Sendiri-sendiri

Peran Kemenkes:

  • Menyusun kebijakan nasional & pedoman teknis

  • Menyiapkan alat skrining, modul edukasi, dan logistik

  • Monitoring & evaluasi lintas sektor

Peran Muhammadiyah:

  • Menggerakkan perubahan perilaku berbasis nilai keagamaan

  • Edukasi dan skrining berbasis komunitas

  • Pendampingan hingga pasien tuntas pengobatan

  • Advokasi di sekolah, masjid, kampus, dan struktur organisasi

Ini bukan sekadar kolaborasi administratif — ini kolaborasi ekosistem.


 Lalu, Mungkinkah Eliminasi TB Sesuai Target?

Jawabannya:

Jika hanya mengandalkan fasilitas kesehatan:

Tidak mungkin. Gap capaian masih terlalu besar.

Jika pendekatannya berubah menjadi gerakan masyarakat:

Sangat mungkin — bahkan lebih cepat dari prediksi.

Kunci game-changer bukan hanya obat, tetapi:

  • penemuan kasus dini,

  • terapi pencegahan TB (TPT) dalam skala besar,

  • pendampingan pasien agar tidak putus obat (loss to follow-up),

  • dan yang paling penting: perubahan perilaku.

TPT bisa menjadi percepatan luar biasa. Jika cakupannya naik ke angka 70–90%, rantai penularan bisa terputus hanya dalam beberapa tahun.


Harapan Itu Bernama Gerakan

TB bisa dicegah. TB bisa diobati. Yang sulit adalah mengubah budaya kesehatan masyarakat.

Dengan hadirnya Tim KESMAS Muhammadiyah DKI Jakarta, model baru ini membawa optimisme baru:

 kesehatan berbasis nilai,
 pendampingan berbasis komunitas,
 aksi bukan hanya program.

Indonesia pernah berhasil menghapus cacar, menurunkan polio, dan mengendalikan malaria.
Kini, saatnya kita menambah satu lagi kemenangan sejarah:

Indonesia bebas TB.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar