Kasus anak yang membunuh ibu kandungnya mengguncang nurani publik. Apalagi ketika pelakunya masih usia sekolah dasar dan berjenis kelamin perempuan. Reaksi masyarakat pun terbelah: ada yang menyebutnya kejam, ada yang menyalahkan orang tua, ada pula yang buru-buru melabelinya sebagai “anak rusak”.
Namun dalam psikologi perkembangan dan neuropsikologi anak, ada satu konsep penting yang sering luput dari diskusi publik: withdrawal rage.
Apa Itu Withdrawal Rage?
Withdrawal rage adalah ledakan emosi ekstrem yang muncul ketika seseorang—termasuk anak—kehilangan secara tiba-tiba sesuatu yang selama ini menjadi sumber regulasi emosinya.
Pada orang dewasa, withdrawal sering dikaitkan dengan:
-
kecanduan alkohol
-
narkotika
-
rokok
-
game
-
gawai
Namun pada anak, sumber regulasi emosi tidak selalu berupa zat. Bisa berupa:
-
gawai atau game
-
figur kelekatan (attachment figure)
-
rutinitas tertentu
-
rasa aman semu dari sesuatu yang dianggap “pelarian”
Ketika sumber ini dicabut mendadak, sementara anak tidak punya keterampilan mengelola emosi, tubuh dan otaknya bisa bereaksi secara ekstrem.
Kenapa Bisa Sampai Membunuh?
Penting ditegaskan:
Withdrawal rage bukan alasan pembenar, tapi penjelasan psikologis.
Dalam kondisi withdrawal rage:
-
Otak rasional (prefrontal cortex) melemah
-
Anak tidak mampu menimbang konsekuensi
-
Tidak bisa membedakan “marah” dan “berbahaya”
-
-
Otak emosional (amigdala) mengambil alih
-
Fight response aktif
-
Dunia terasa “mengancam”
-
-
Pemicu kecil terasa seperti ancaman besar
-
Disita HP
-
Dimarahi
-
Diperlakukan keras
-
Dipermalukan
-
Dalam kondisi ini, anak tidak sedang berpikir “aku mau membunuh”, tetapi berada dalam mode:
“Aku harus menghentikan rasa sakit ini sekarang.”
Jika di sekitarnya ada alat berbahaya, risiko tragedi meningkat.
Mengapa Banyak Terjadi pada Anak Perempuan?
Ini poin penting yang sering disalahpahami.
Anak perempuan umumnya:
-
diajari menahan marah
-
dituntut patuh
-
tidak diberi ruang ekspresi agresi sehat
Akibatnya:
-
emosi dipendam
-
tidak tersalurkan
-
tidak dikenali
Ketika pemicu dicabut, ledakannya justru lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih ekstrem.
Ini bukan karena anak perempuan lebih kejam, tapi karena:
emosi mereka lama tidak punya jalan keluar.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Banyak orang tua berpikir:
“Kalau disita, anaknya kapok.”
Padahal tanpa disadari:
-
benda tersebut mungkin satu-satunya coping mechanism anak
-
pencabutan tanpa pendampingan = withdrawal emosional
Bukan berarti orang tua salah total. Banyak orang tua juga:
-
kelelahan
-
tidak paham psikologi anak
-
hanya meniru pola asuh yang mereka alami dulu
Masalahnya bukan niat, tapi ketidaktahuan sistemik.
Apa yang Seharusnya Menjadi Pelajaran Bersama?
Kasus ini seharusnya tidak berhenti pada:
-
kecaman
-
sensasi media
-
penghakiman moral
Tetapi menjadi alarm keras bahwa:
-
Anak butuh diajari regulasi emosi sejak dini
-
Disiplin tanpa empati bisa berbahaya
-
Mencabut kebiasaan anak harus disertai pendampingan
-
Sekolah dan keluarga perlu literasi kesehatan mental anak
Karena anak bukan miniatur orang dewasa. Otaknya masih tumbuh, emosinya belum matang, dan reaksinya sering kali tidak proporsional.
Penutup
Withdrawal rage mengajarkan kita satu hal yang tidak nyaman untuk diakui:
kejahatan anak sering kali lahir dari kegagalan orang dewasa memahami dunia emosi anak.
Ini bukan tentang membela pelaku. Ini tentang mencegah tragedi serupa terulang.
Jika kita terus mendidik anak hanya dengan larangan dan hukuman, tanpa keterampilan emosi, maka yang kita bangun bukan karakter—melainkan bom waktu yang sunyi.
Dan sayangnya, ledakan itu sering terjadi di rumah, pada orang yang paling dekat.