Oleh: A. Rusdiana
(Pena Berkarya Bersama didukung oleh 2.693 Anggota)
Setelah sepekan tidak menyapa melalui PBB, sejak edisi terakhir 9 Oktober 2026 bertajuk “Ketika Menulis Lebih Tertib, Berbuah Lebih Manis: Apa yang Membuat Hasil Melampaui Target?”, hari ini kita kembali berbagi pembelajaran. Ketertiban menulis ternyata belum cukup apabila tidak disertai kejujuran mengutip. Robert K. Merton (1942) menekankan pengujian kritis dalam ilmu pengetahuan. Prinsip tersebut sejalan dengan perintah tabayyun (QS. Al-Hujurat [49]: 6) dan pesan Rasulullah saw. agar tidak sembarangan menyampaikan setiap informasi yang didengar (HR. Muslim). GAP-nya: teknologi memudahkan pengutipan, tetapi belum otomatis membangun integritas sumber. Dari sinilah empat pelajaran penting perlu direnungkan bersama. Mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama, menulis jujur berarti menghargai pemilik gagasan. Mengutip bukan mengambil pemikiran orang lain seolah-olah milik sendiri. Kejujuran intelektual menuntut pengakuan terhadap sumber, baik dalam karya akademik maupun tulisan media.
Kedua, membedakan kutipan, parafrasa, dan transkripsi. Kutipan mempertahankan redaksi asli, parafrasa menyampaikan gagasan dengan bahasa sendiri, sedangkan transkripsi merekam tuturan menjadi tulisan. Ketiganya wajib menjaga makna dan atribusi.
Ketiga, memastikan sumber dapat ditelusuri. Menyebut nama tokoh saja belum cukup apabila gagasannya berasal dari buku, artikel, atau media lain. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menegaskan pentingnya disiplin verifikasi dalam jurnalistik. Sumber yang jelas memperkuat kepercayaan pembaca.
Keempat, menjadikan tabayyun sebagai pembiasaan. Sebelum tulisan dipublikasikan, periksa kebenaran kutipan, konteks pernyataan, dan identitas sumber. SOP penulisan hendaknya menjadi budaya tanggung jawab, bukan sekadar formalitas administrasi.
Sinkatnya, Menulis Jujur, Menjaga Martabat, Sahabat PBB yang berbahagia, ketertiban menulis melahirkan karya yang terstruktur, sedangkan kejujuran mengutip melahirkan karya yang bermartabat. Keduanya harus berjalan bersama. Bagi 2.693 anggota PBB, pembelajaran ini mengingatkan bahwa setiap tulisan merupakan amanah intelektual dan moral. Dalam perspektif Dewan Kehormatan, menjaga etika berarti membangun budaya saling mengingatkan, memperbaiki, dan memberi keteladanan. Menulis boleh cepat, tetapi memeriksa sumber jangan terlewat. Menulis boleh indah, tetapi kejujuran harus tetap menjadi arah. Salam literasi, salam integritas, salam berbagi manfaat.