KETIKA TENAGA PENDIDIK HARUS MENULIS?

2026-01-13 05:37:20 | Diperbaharui: 2026-01-13 05:37:20
KETIKA TENAGA PENDIDIK HARUS MENULIS?

 

Sumber: ilustrasi dibuat khusus dengan berbatuan AI sesuai permintaan, untuk publikasi PBB-Kompasiana, dengan kredit: Ilustrasi: AI-generated (OpenAI), (Dimodifikasi dengan berbagai sumber 13 Januari 2025)

Ketika Tenaga Pendidik Harus Menulis: Refleksi HAB ke-80 Kemenag: Dari Kelas, Teks, dan Keteladanan

Oleh: A. Rusdiana

Menulis kerap dipersepsi sebagai pekerjaan sunyi bahkan membosankan. Padahal, dalam kesenyapan itu tersimpan daya transformatif yang luar biasa. Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata, melainkan praktik intelektual dan spiritual untuk mengikat ilmu, pengalaman, serta hikmah agar tidak tercerai oleh waktu. Bagi tenaga pendidik, menulis bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan peradaban.

Fenomena sederhana namun bermakna pernah saya alami. Ketika memposting kitab Hilyatul Auliya jilid 6 di grup WhatsApp komunitas alumni, memamang sebuah kebiasaan setiap kali menerima kiriman kitab muncul pesan singkat dari seorang sahabat yang akrab disapa Abah: “Tuh, Prof, tos maca Hilyatul Auliya, atanapi kantos miwarang?” (Ahad, 5 Januari 2026). Sebuah pertanyaan yang terasa seperti tantangan. Membaca, menulis, dan mengikat makna bukankah itulah siklus ilmu yang semestinya? Alhamdulillah, hingga kini sinopsis bacaan telah sampai jilid keenam. Tantangan itu berubah menjadi pengingat: membaca menuntut keberlanjutan, menulis menuntut keberanian.

Sebagai dosen mengampu Manajemen SDM Pendidikan dan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan di S2, serta Metode Penelitian Manajemen Pendidikan di S1 saya meyakini bahwa hampir seluruh tugas akademik bersentuhan langsung dengan realitas sosial dan spiritual umat. Dari kelas hingga bimbingan tugas akhir (poster, esai media, riset mini, skripsi, tesis, disertasi) yang bermuara pada publikasi jurnal nasional dan internasional, menulis adalah nadi kerja akademik. Menulis dipastikan membaca terlebih dahulu; tanpa membaca, menulis kehilangan pijakan.

Dalam teori kontemporer, Donald Schön menyebut praktik profesional yang bermutu lahir dari reflective practice refleksi atas pengalaman nyata. Paulo Freire menegaskan pendidikan sebagai praxis: refleksi dan aksi yang saling menguatkan. Lee S. Shulman menempatkan pedagogical content knowledge sebagai integrasi ilmu, pengalaman, dan cara menyampaikannya. Menulis menjadi wahana praxis itu mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.

Landasan spiritual meneguhkan urgensi tersebut. Al-Qur’an menegaskan: “Bacalah dengan nama Tuhanmu…” (QS. Al-‘Alaq: 1), sebuah perintah membaca yang membuka jalan menulis. Allah juga bersumpah dengan pena: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (QS. Al-Qalam: 1). Rasulullah ï·º bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” (HR. Al-Hakim). Menulis adalah ibadah intelektual amal jariyah ilmu.

Memasuki HAB ke-80 Kementerian Agama RI dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, kewajiban menulis bagi tenaga pendidik menemukan relevansi kebangsaan. Menulis mempertautkan ilmu dengan kerukunan, riset dengan maslahat, dan kelas dengan masa depan. Menyongsong Semester Genap 2025/2026, setidaknya ada lima pembelajaran penting:

Pertama, menulis sebagai etika profesi. Dosen bukan sekadar pengajar teks, tetapi teladan intelektual. Produktivitas menulis mencerminkan tanggung jawab keilmuan dan integritas akademik.

Kedua, menulis melatih kerukunan berpikir. Melalui argumen berbasis data, parafrase, dan sintesis, mahasiswa belajar berbeda pendapat dengan adab selaras dengan nilai hikmah dan mau‘izhah hasanah (QS. An-Nahl: 125).

Ketiga, menulis sebagai sinergi teknologi. Kolaborasi digital (mis. dokumen kolaboratif, analitik data) menumbuhkan budaya kerja tim lintas disiplin selaras dengan semangat sinergi HAB ke-80.

Keempat, menulis sebagai pengabdian umat. Catatan akademik yang berangkat dari realitas sosial menjadi solusi praktis: kebijakan pendidikan, penguatan keluarga, dan literasi keagamaan yang meneduhkan.

Kelima, menulis menyiapkan masa depan. Standar publikasi 2026 menuntut peta riset terukur dan kualitas jurnal yang tepat sasaran. Menulis berkelanjutan memastikan keberlanjutan karier akademik sekaligus kontribusi nasional.

Akhirnya, ketika tenaga pendidik menulis, sesungguhnya ia sedang merawat peradaban: mengikat ilmu, menyalakan nurani, dan membangun Indonesia yang damai dan maju—dari kelas, dari teks, dari keteladanan. Semoga HAB ke-80 menjadi momentum memperteguh komitmen ini.

Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar