Luaran Training Inspiratif Tulis Artikel (TInTA) Seri AKU DAN ‘AISYIYAH
Latar Belakang
Perjumpaan dengan seorang yang baru dalam sebuah perjalanan waktu, bukanlah suatu yang di desain secara terperinci. Ada peran tangan Yang Maha Kuasa yang menggerakkan, menyatukan dan memadukan dalam keadaan dan suasana hingga terjalin ikatan batin yang kuat dalam suatu tujuan dalam pikiran begitu juga kemitraan membangun amal usaha.
Gemuruh bergelora sebuah hati dalam benih-benih cinta pada warna yang subur dan sejuk di pandang mata yakni hijau yang menjadi warna kesukaan seorang manusia mulia Nabi Muhammad Rasullullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Inilah kisah Gema Hati Tak Kan Padam dari seorang Ibu Shinta Permatasari, A.Md
Kedekatan saya dalam mengangkat kisah Gema Hati Tak Kan Padam dengan narasumber merupakan mitra keorganisasian di PRA Jatisari. Jatuh pilihan terhadap narasumber oleh karena Nama Shinta Permatasari mulai menggema di ruang wilayah Kelurahan Jatisari Kecamatan Jatiasih berada di sebuah ujung Selatan Kota Bekasi yang berbatasan empat kota. Kota Depok kota Jakarta Timur dan kota Bogor. Dan Ibu Shinta Permatasari telah memanam benih dan kini telah terlihat tunas, ya tunas itu disebut ‘Aisyiyah yang terus bertumbuh dan berkembang. ‘Aisyiyah sebuah gerakan yang tenang, damai, namun memancarkan cahaya ke ilmuan membawa perubahan perubahan dalam gerakan Ibadah serta amal usaha kemuhammadiyahan.
Hal lain ditulisnya kisah ini merupakan bagian agar bisa bergerak bersama melindungi tunas dari rasa takut adanya gulma yang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangannya serta iklim alam dan massa. Dan berharap kedepan Tunas itu akan menjadi sebuah Pohon Besar yang dapat menaungi makhluk yang berada di bawahnya dan didekatnya serta tetap memberi manfaat dengan buah yang lezat membari kehidupan bagi makhluk tersebut. Semangat menjadikan perjuangan atau sepak terjang dalam gerakan Aisyiyah dibangun bersama raih ’Aisyiyah Jatisari Berkemajuan dalam perubahan.
Kehidupan dan Pendidikan.
Tokoh di kisah ini merupakan Organisasi Aisyiyah seorang Ketua Pimpinan PRA JATISARI, bagian dari PCA JATIASIH yang berada pada PDA KOTA BEKASI. Usia organisasi ini sejak dikeluarkannya Surat Keputusam Pimpinan Pusat Muhammadiyah masih cukup muda, baru berjalan dua tahun sejak tahun 2023.
Ibu Shinta Permatasari, lahir di Tanah Abang Kota Jakarta Pusat pada tanggal 1 November 1972. Dan tanggal itu mengingatkan saya ketika wawancara saya dengan Ibu Shinta Permatasari terjadi di hari Sabtu, 1 November 2025 ( bertepatan milad usia beliau ke 52 tahun). Beliau adalah putri dari seorang Ibu bernama Elisda Ilyas dan seorang Ayah bernama (alm.) E. Tantowi, dan memiliki sepuluh saudara kandung.
Pendidikan awal di Sekolah Dasar beliau lalui di daerah kelahiran di Jakarta Pusat, tepatnya di SD Karet Tengsin, dan melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA di Muhammadiyah Tanah Abang. Setelah lulus SMA, Ibu Shinta Permatasari memiliki perjalan cukup unik. Mencoba mengikuti kelas ekstensi jurusan Perbankan di Universitas Sahid, Tebet. Merasa kurang sesuai ia meninggalkan kampus Universitas Sahid .
Kemudian menjadi mahasiswi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Yayasan Pembangunan Indonesia (STIE, YPI) yang bertepat di Jakarta Timur, dengan jurusan Akutansi dan lulus dengan gelar Sarjana Muda. Perjalan pendidikan di STIE YPI Sembari belajar di kampus, beliau ikut bekerja dalam bidang marketing karena alasan finansial.
Berkiprah di Aisyiyah
Ibu Shinta dalam percakapan di sesi ini, ia diam sejenak seperti mengingat pada sebuah peristiwa masa lalunya. Ia dengan raut wajah penuh semangat menceritakan pengalaman muda di sebuah tempat kerja yang saat itu ia masih menjadi seorang mahasiswa di STIE YPI. Di tempat kerja ia membidangi bagian distributor, dan ini jelas berbeda jauh dengan jurusan yang dijalaninya di bangku Kampus. Dan Perusahan itu cukup besar yang merupakan agen tunggal Majalah TIME dan majalah Fortune yang berada di Toko Buku Gunung Agung.
Bu Shinta mengungkapkan “Saya kerja di bagian marketing tetapi kuliah jurusan akutansi, saya merasa gak nyambung.” Dengan tersenyum dan tersipu. Ibu Shinta Permatasari merasakan nyaman dan asyik berada dalam pekerjaan tersebut hingga ia berujar, “Sepertinya saya memiliki potensi yang kuat dalam marketing, bersosialisasi dan berhubungan dengan banyak orang. Saat itu yang saya rasakan selama dalam perjalan kerja sangat menikmati”. Ibu Shinta menunjukkan keseriusannya dengan tetap semangat dan ceria ia melanjutkan percakapan.
“Suatu ketika, saya mendapatkan calon pelanggan dari koneksi untuk menawarkan dan menjual majalah Time dan majalah Fortune”, katanya. “Coba siapa yang saya temui ?” lanjutnya sembari memperbaiki posisi duduknya dengan sedikit tegak “Ternyata dia seorang direktur sebuah Bank BNI. Ia mengajak bicara dan berdiskusi bahwa ia terheran-heran karena saya dapat masuk tanpa janji dan melewati sekertarisnya. Dan pada saat itu umur saya sekitar 20 tahun. Itu sebuah pengalaman masa muda yang membanggakan.” kisah Bu Shinta di masa masih sangat belia saat itu.
Dari perjalan masa lalu yang telah dijalani , Ibu Shinta Permatasari diusianya saat ini semakin kuat keyakinan atas kesadaran pada karakter diri dan kemampuan diri serta kecerdasan dirinya. “Saatnya sekarang di waktu dan tempat yang tepat, yang saya rasakan saat berjumpa dengan organisasi gerakan Muhammadiyah (Aisyiyah) maka semakin kuat keinginan untuk saya terus mengembangkan bakat pada sebuah organisasi sosial dengan tujuan memajukan dan menjaga organisasi Aisyiyah. Kecintaan terhadap Muhammadiyah sejak kecil baik dalam keluarga dan di lingkungan sekolah dasar dan menengah. Juga kita mengetahui Muhammadiyah saat ini adalah organisasi sosial keagamaan yang besar merambah ke Manca Negara.” Ujar Bu Shinta menggebu dan wajah bangga, seakan gaung sebuah gema yang terpendam akan memantulkan gemana.
Menarik garis dari masa belia dan pemuda ternyata ibu Shinta telah bertumbuh dan berkembang bersama dengan tokoh-tokoh Nasional saat ini. Mengingat pengalaman hidup sebagai marketing, yang pasti punya bakat dan kemampuan komunikasi yang baik dalam bersosialisasi. Diawali ketika mulai berorganisasi di bangku Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah, Tanah Abang. Seperti organisasi Nasyiatul Aisyiyah Cabang Tanah Abang I. Sejak itu, beliau terus aktif dalam pergerakan dakwah di Masjid Sunda Kelapa dan juga Ikatan Remaja Masjid se-DKI. Hal itu terus berlanjut hingga berada di dunia kerja, seperti kegiatan di bidang penanganan dhuafa, anak yatim, dan sebagainya. Beliau dipercaya dan selalu ditunjuk di dalam organisasi menghadapi orang atau terkait hubungan masyarakat.
Dalam pengalamannya berorganisasi, beliau pernah bekerja bersama orang-orang yang kini telah menjadi tokoh Politik dan Masyarakat. Diantaranya, Bapak Prof. Dr. H. Eggy Sudjana, S.H., M.Si. dan juga Bapak Idrus Marham, Mantan Mentri Sosial di Pemerintahan Jokowi dan Mantan Ketua Umum Politik Golongan Karya.
Bergabung di Aisyiyah
Kisah unik mengawali karirnya di ‘Aisyiyah, terjadi ketika Ibu Shinta Permatasari melihat ibu-ibu Aisyiyah berseragam mengatur jama’ah sholat Idhul Fitri tahun 1445 H di Wilayah Jatiasih. Hati Ibu Shinta bergejolak memandang kebahagian para ibu memberi pelayanan pada jamaah sholat dengan wajah ceria dan senyum bahagia serta kebersamaan dalam nuansa busana batik Hijau paduan batik coklat makin mengembang kecintaan di hati. Rasa ingin bergabung meledak ledak, Namun bagaimana caranya? kata hatinya. Kisah itu ia sampaikan dalam pecakapan.
Ibu Shinta melakukan percakapan dengan dirinya, katanya dalam percakapan selanjutnya dan meminta pada Allahu Subhannahu wata’alla, “Bagaimana caranya saya mau masuk ke Organisasi Aisyiyah, Ya Allah. Masa saya mau panggil ibu-ibu berseragam itu dan mengatakan saya mau masuk dong, siapa saya..”
Lalu Bu Shinta jawab sendiri dalam hati,” udah bair aja dulu, nanti juga ada jalannya.” Di sini saya menangkap adanya kecerdasan Emosi artinya memiliki keseimbangan keinginan kesabaran, dan sifat tawakal Ibu Shinta kepada Allahu Azza wa Jalla hadapi sebuah permasalahan.
Kisah lainnya yang disampaikan dalam percakapan adalah pada tahun 2022, ketika PCA Aisyiyah mengadakan kegiatan berbagi ta’jil di sekitaran Komsen, Kecamatan Jatiasih yang di tampilkan di status media sosial sahabat liqo’nya, Ibu Arina Hidayati . Gayung bersambut Ibu Shinta meminta untuk dapat bergabung di acara sejenis. Gayung bersambut, Bu Arina Hidayati membuka ruang, akhirnya di sinilah terjawab keinginan Ibu Shinta untuk bargabung dengan organisasi perempuan Aisyiyah.
Berselang beberapa waktu tidak lama, Bu Shinta disambut oleh Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Jatiasih, Ibu dr. Luthfia Sugiarto, atas usulan Bu Arina Selaku yang membidangi di Majelis Kesejahteraan Sosial di Organisasi Pimpinan Cabang A’isyiyah Jati Asih. Kemudian, Bu Arina mengusulkan untuk membuat PRA Jatisari. Saat itu sudah ada empat anggota yang berada di Jatisari, yaitu Ibu Shinta Permatasari, Ibu Arina Hidayati, Ibu Prihandayani, dan Ibu Rozikah. Akhirnya Bu Arina melapor kepada ketua oganisasi PCA. Untuk mendapatkan persetujuan, maka disusunlah pengurus PRA yang disepakati sebagai berikut:
Ketua : Ibu Shinta Permatasari
Sekretaris : Ibu Arina Hidayati
Bendahara : Ibu Prihandayani
Anggota : Ibu Rozikah
Bertahan Berjuang di ‘Aisyiyah?
Dalam waktu yang cukup kilat dan berpijak pada pengalaman perjalanan berorganisasi dari remaja, dan pengalaman dunia kerja serta bertambahnya usia membentuk kesadaran beliau untuk terus berjuang maju dengan kecintaan dan kenyamanan dalam pekerjaan. Percaya diri yang kuat yang terus bertumbuh dan berkembang dalam diri menambah keyakinan kemajuan pergerakan ‘Aisyiyah yang kini berada di tangannya. Benih yang bagus ini akan di tuai di wilayah garapan, Bu Shinta merasa tim pengurus pada organisasi PRA Jatisari memiliki kemampuan kerja yang mumpuni, semangat dan bahagia dalam menjalankan tugas.
Pergerakan yang dijalankan Ibu Shinta telah banyak memberikan manfaat banyak pada dirinya, itu yang dirasa. Maka hal positif ini pula yang ingin Ibu Shinta tularkan pada orang yang di naungi dalam PRA Jatisari dibawah tanggungjawabnya dan sekitarnya. Manfaat yang diberi saat ini adalah dilakukan berbentuk program Majelis Kesejahteraan Sosial berupa pengajian rutin sebagai ajang pertemuan silaturahmi dalam jamaah ilmu agama, dibentuk Posbindu Lansia “Sehat Bahagia” dengan kegiatan senam, Rencana Sekolah Lansia. Majelis Kesehatan kegiatan berupa pemberian makanan bergizi serta pemeriksaan kesehatan. Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan berupa Kerjasama dengan instansi/lembaga/masyarakat dalam kegiatan Bank sampah, Budidaya ayam kampong, kerjasama dengan UMKM untuk bersama memasarkan makanan dan minuman hasil produksi anggota. Majelis Pendidikan AUD,Menengah berupa kerjasama dengan Sekolah SBB SD Karakter ASY-SYAFA’AT, POLTEKES 3 Jakarta.
Organisasi Aisyiyah banyak memberi manfaat kepada dirinya dan masyarakat. Beliau juga bangga menjadi bagian dari organisasi yang sudah berdiri selama 108 tahun dan lingkup gerakannya sudah nasional bahkan internasional. Tim yang saling mendukung dan bekerja sama membuat Bu Shinta merasa nyaman berorganisasi. Ketika satu anggota tidak bisa, maka yang lain siap membantu untuk menyelesaikan agenda kerja. Dari situ, PCA Jatisari mendapat penilaian yang baik terkait solidaritas timnya oleh ranting-ranting lain di lingkungan PCA Jatiasih.
Suka Duka Berorganisasi di ‘Aisyiyah
Ungkapan Ibu Shinta benar, “Dalam berorganisasi, lelah itu adalah hal yang biasa”. Ketika berorganisasi di Aisyiah, Bu Shinta bersyukur atas petunjuk dan kesadaran diri yang diberikan Allah SWT. Kemudian dapat saling belajar untuk meningkatkan keilmuan diri. Selain itu, kerjasama seluruh jajaran dari tujuh PRA di bawah PCA yang memiliki keunikan kelebihan masing-masing yang saling mendukung. “Ketika semua pekerjaan dilakukan dengan suka hati, akan memberi manfaat dan memberikan ilmu”, seperti sebuah pesan yang disampai Ibu Shinta untuk anggotanya dan mitra kerjanya.
Membagi waktu
Kita tahu membagi waku memang berat bagi kita pada umumnya. Sikap bijak yang ibu Shinta katakan “Hal yang utama adalah support system dari rumah: antara diri, suami, dan anak. Semua harus saling mengetahui aktivitas yang dilakukan dan bisa saling mendukung. Adapun ketika di organisasi, antar pengurus dan anggota saling terbuka dengan kesibukannya sehingga dapat berbagi waktu. Selain itu, perkuat rasa persaudaraaan diatara pengurus dan anggota”.
Sebuah rangkaian kata sederhana namun jika kita integrasikan dengan sikap-sikap karakter yang telah terbentuk terbangun seperti karakter saling toleransi, jujur, berkata bijak, rendah hati dan baik hati, serta percaya diri, pantang menyerah, dermawan, suka menolong dan kerjasama, kepemimpinan yang bijak, toleransi dan masih banyak yang bisa kita jadikan pilar dalam perorganisasi maka akan menjadi mudah damai, nyaman dan aman dan sehat jiwa raga.
Mengatasi konflik internal
“Selama ini belum ada, dan kita berharap semoga itu tidak akan ada. Kata kuncinya, kita harus berpegang pada sikap saling menghargai antara pengurus dan anggota. Selain itu, semua personil di PRA Jatisari memiliki rasa tanggung jawab pada diri dan lingkungannya, rasa cinta, jauh dari sikap egois diri” ungkap bu Shinta dengan tenang dan tetap menunjuk sikap optimis.
Mengatasi tantangan dan hambatan
Hambatan yang dihadapi adalah keanggotaan yang pasif karena masih bekerja diluar, sehingga sulit untuk meninggalkan tugas atau pekerjaannya utama. Untuk itu, dengan kebijaksanaan Ibu Shinta, maka segala yang dihadapi terkait personal tersebut . Ibu Shinta akan mendudukan dirinya sebagaimana anggota tersebut. Sebab apa yang dilakukan mereka merupakan pilihan masing-masing, dan sebagai ketua, Bu Shinta menghargai pilihan tersebut. Bu Shinta akan tetap berpegang Teguh dan meyakini bahwa semua hal ada waktunya.
Dalam hal komunikasi, setiap kegiatan di grup akan saling berbagi informasi sehingga saling mengetahui kegiatan yang akan atau sedang berlangsung. Di lain hal, yang disayangkan adalah ketika paksaan untuk aktif dalam organisasi membuat mereka lari. Mengingat masuknya mereka adalah mencari kita dan memutuskan pilihan ke kita itu tidak mudah.
Harapan terhadap Aisyiyah
Ibu Shinta menyadari tergolong masih baru bergabung di ‘Aisyiyah, di cabang maupun di ranting. Masukan yang dapat Ibu Shinta berikan, “kita harus mampu mempertahankan nama Aisyiyah, nama yang sudah besar. Dengan sikap, kegiatan yang bermanfaat bagi umat melalui amal usaha Muhammadiyah guna dihasilkan sesuatu menjadi lebih baik, begitu juga bagi diri kita sendiri”.
Harapan terhadap perempuan Indonesia
Beliau berkata, ” perempuan Indonesia harus mandiri, kuat, dan bahagia. Karena sosok ibu yang bahagia akan menularkan bahagia itu kepada seisi rumah, dan sekitarnya. Selain itu, perempuan Indonesia perlu memiliki pandangan yang luas dan lepas. Mengingat, tidak semua hal atau peristiwa perlu dijadikan masalah. Apapun kejadian atau peristiwa yang dihadapi tidak perlu dijadikan beban pikiran, ingat berjalannya waktu akan memberi banyak pelajaran yang Allah Berikan kepada kita. Baik bahagia ataupun kesulitan dari pelajaran tersebut akan memberikan kekuatan, dibalik kesedihan ada kebahagiaan.”
Kalimat itu yang menutup percakapan kami dengan sikap yang semangat, tenang dan senyum selalu terhias sepanjang percakapan. Menyenangkan , santai, bermakna, harap dan takut tetap ada, namun ketakwaan, sabar dan sadari semua ada waktunya.
Bergeraklah Wahai Warga Muhammadiyah dalam Sikap Pembaharuan dan Berkemajuan !!!!