Kenapa Baca Alhamdulillah Saat Bersin?

2026-01-14 10:23:17 | Diperbaharui: 2026-01-14 10:23:17
Kenapa Baca Alhamdulillah Saat Bersin?
AI generated

Pernah tidak kita berhenti sejenak dan bertanya: kenapa ya setiap kali bersin, mata kita otomatis merem? Padahal tidak ada yang menyuruh, tidak ada tombol "close" yang kita tekan. Tahu-tahu sudah gelap sepersekian detik. Hal kecil, tapi kalau dipikir-pikir, ini luar biasa.

Secara ilmiah, bersin adalah refleks protektif tubuh. Ketika hidung terpapar iritan—debu, virus, alergen—saraf trigeminal mengirim sinyal ke otak bahwa ada “gangguan”. Otak lalu merespons cepat dengan satu paket perintah: tarik napas dalam, tutup jalan napas tertentu, kontraksikan otot dada, dan… ya, kelopak mata ikut menutup.

Dalam dunia fisiologi, refleks ini disebut sebagai cross-talk antar saraf. Saraf trigeminal (pemicu bersin) letaknya berdekatan dengan saraf fasialis yang mengatur otot wajah, termasuk kelopak mata. Karena jaraknya dekat, sinyalnya ikut terbawa. Akibatnya, bersin dan merem jadi satu paket yang hampir tak terpisahkan.

Data menunjukkan bahwa kecepatan udara saat bersin bisa mencapai lebih dari 150 km/jam, dengan ribuan droplet mikroskopis terlontar ke udara. Dari sudut pandang biologi, menutup mata adalah mekanisme aman: mencegah partikel asing masuk ke mata. Bukan karena bola mata bisa copot (ini mitos), tapi karena tubuh memang dirancang untuk meminimalkan risiko, bahkan yang sangat kecil.

Yang menarik, refleks ini bersifat involunter—tidak bisa dikontrol sepenuhnya oleh kehendak sadar. Inilah bukti bahwa tubuh manusia memiliki sistem kendali otomatis yang bekerja jauh lebih cepat daripada pikiran rasional kita. Tanpa rapat koordinasi, tanpa instruksi verbal, semua berjalan rapi.

Kalau kita tarik sedikit ke ranah refleksi, di sinilah rasa takzim itu muncul. Bahkan dalam hal sesederhana bersin, tubuh sudah dibekali mekanisme perlindungan yang presisi. Kita sering merasa "memegang kendali" atas hidup, padahal untuk berkedip, bernapas, hingga bersin pun, ada sistem yang bekerja di luar kesadaran kita.

Maka pantas rasanya jika dari fenomena kecil ini kita berucap: MaasyaaAllah Tabarakallah. Tubuh ini bukan sekadar kumpulan organ, tetapi sistem cerdas yang dirancang dengan sangat detail. Tugas kita mungkin sederhana: menjaga, tidak merusak, dan belajar membaca tanda-tanda kebesaran-Nya—bahkan dari satu kali bersin.

Dalam Islam, bersin tidak dipandang sekadar reaksi biologis, tapi juga momen kesadaran. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ketika seseorang bersin, ia dianjurkan mengucap “Alhamdulillah”. Bukan tanpa alasan.

Secara medis, bersin adalah tanda bahwa tubuh masih mampu melindungi diri. Saluran napas membersihkan iritan, sistem saraf bekerja cepat, dan refleks protektif berjalan sempurna. Dalam konteks ini, bersin adalah tanda fungsi tubuh yang sehat, bukan gangguan.

Karena itulah para ulama menjelaskan bahwa ucapan Alhamdulillah setelah bersin adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan yang sering luput disadari. Kita jarang bersyukur karena bisa bernapas lega, sampai suatu hari hidung tersumbat dan dada terasa sesak.

Menariknya, Islam tidak berhenti pada individu. Orang yang mendengar dianjurkan menjawab “Yarhamukallah”, lalu dibalas dengan “Yahdikumullah wa yushlihu balakum”. Ada rantai doa di sana: kesehatan, rahmat, dan kebaikan hidup.

Jika dilihat lebih dalam, ini selaras dengan sains dan spiritualitas sekaligus. Tubuh bekerja otomatis, lalu manusia diajak sadar dan bersyukur. Refleks biologis bertemu refleksi iman.

Maka, mengucap Alhamdulillah saat bersin bukan kebiasaan kosong. Ia adalah pengingat singkat bahwa di balik satu hembusan keras dari hidung, ada sistem kehidupan yang bekerja rapi—dan nikmat Tuhan yang patut disyukuri.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar