SAAT PENDIDIK DITUNTUT MENULIS: MERAWAT KERUKUNAN BERPIKIR LEWAL TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL

2026-01-16 11:55:03 | Diperbaharui: 2026-01-16 11:55:29
SAAT PENDIDIK DITUNTUT MENULIS: MERAWAT KERUKUNAN BERPIKIR LEWAL TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL

 

Sumber: ilustrasi dibuat khusus dengan berbatuan AI sesuai permintaan, untuk publikasi PBB-Kompasiana, dengan kredit: Ilustrasi: AI-generated (OpenAI), (Dimodifikasi dengan berbagai sumber 16 Januari 2025)

SAAT PENDIDIK DITUNTUT MENULIS: MERAWAT KERUKUNAN BERPIKIR LEWAT TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL

(Refleksi Isro Mi'raj 1447 H, Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) Episode ke-76)

Oleh: A. Rusdiana

Menulis sering dipersepsi sebagai aktivitas akademik yang teknis dan administratif. Namun bagi tenaga pendidik, menulis sejatinya adalah latihan etika berpikir dan wujud tanggung jawab profesional. Momentum Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, yang bertepatan dengan awal tahun 2026 serta persiapan pembelajaran Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, menjadi semakin bermakna ketika bersanding dengan peringatan Isro Mi’raj 27 Rajab 1447 H. Peristiwa agung ini mengajarkan bahwa kenaikan spiritual tidak berhenti pada pengalaman personal, tetapi harus kembali ke bumi dalam bentuk tanggung jawab, keteladanan, dan kemaslahatan sosial. Dalam konteks pendidikan, pesan Isro Mi’raj menjadi ruang refleksi penting: sejauh mana praktik menulis di lingkungan akademik telah membentuk kerukunan berpikir, kedewasaan nalar, dan adab perbedaan di tengah tantangan zaman?

Fenomena yang baru saja dialami banyak dosen penyelesaian Laporan Kinerja Dosen (LKD) Semester Ganjil dengan tenggat ketat hingga 15 Januari 2026 menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban profesional. Konsekuensinya nyata: keterlambatan berdampak pada tertundanya tunjangan kinerja profesional. Namun di balik tekanan administratif tersebut, terdapat pesan etik yang lebih dalam: menulis adalah wujud akuntabilitas intelektual seorang pendidik kepada institusi, mahasiswa, dan masyarakat.

Pelajaran kedua dari refleksi profesi pendidik adalah bahwa menulis melatih kerukunan berpikir. Melalui proses menyusun argumen berbasis data, melakukan parafrase, dan membangun sintesis, penulis dilatih untuk mengelola perbedaan pandangan secara beradab. Al-Qur’an memberikan landasan etik ini melalui perintah berdialog dengan hikmah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Menulis yang bertanggung jawab menuntut kejernihan nalar sekaligus keluhuran sikap.

Dalam teori kontemporer, Jürgen Habermas melalui gagasan communicative action menekankan bahwa rasionalitas tidak hanya soal logika, tetapi juga soal etika komunikasi yang menghargai pihak lain. Menulis akademik, jika dilakukan dengan jujur dan terbuka, menjadi ruang latihan komunikasi rasional yang berorientasi pada saling pengertian, bukan dominasi. Inilah kerukunan berpikir dalam makna modernnya.

Pembelajaran pertama yang dapat ditarik adalah menulis melatih disiplin berpikir objektif. Ketika dosen menulis laporan kinerja, artikel ilmiah, atau refleksi pembelajaran, ia dipaksa keluar dari opini subjektif menuju argumentasi berbasis bukti. Disiplin ini mencegah prasangka dan melatih keadilan intelektual fondasi utama kerukunan akademik.

Pembelajaran kedua, menulis menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan. Proses sitasi dan parafrase mengajarkan bahwa ilmu berkembang melalui dialog, bukan penafian. Rasulullah ï·º mengingatkan, “Bukanlah seorang mukmin yang mencela dan merendahkan” (HR. Tirmidzi). Dalam menulis, penghargaan terhadap sumber dan pandangan lain adalah praktik konkret dari hadis ini.

Pembelajaran ketiga, menulis memperkuat integritas profesi. Di tahun 2026, standar integritas akademik semakin ketat untuk memastikan setiap karya memiliki kontribusi nyata. Menulis dengan jujur tanpa plagiarisme dan manipulasi data adalah bentuk amanah profesional. Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58). Laporan kinerja dan karya ilmiah adalah amanah intelektual.

Pembelajaran keempat, menulis membangun keteladanan sosial. Dosen bukan hanya pengajar di kelas, tetapi model berpikir di ruang publik. Tulisan yang santun, argumentatif, dan solutif menjadi teladan bagi mahasiswa dalam menghadapi perbedaan di era polarisasi digital. Di sinilah menulis berkontribusi langsung pada tema HAB ke-80: kerukunan umat dan sinergi bangsa.

Bagi Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-75 dan terus bertumbuh hingga ribuan anggota, menulis bukan sekadar produktivitas literasi, tetapi gerakan etika berpikir kolektif. Setiap tulisan yang lahir dengan tanggung jawab dan adab adalah kontribusi nyata bagi Indonesia yang damai dan maju.

Pada akhirnya, ketika tenaga pendidik harus menulis, yang sedang dilatih bukan hanya keterampilan akademik, tetapi kematangan berpikir dan keluhuran sikap. Di tengah tuntutan administrasi, target kinerja, dan tantangan zaman, menulis menjadi jalan sunyi untuk merawat kerukunan berpikir. Dari kelas, dari teks, dan dari keteladanan, menulis mengajarkan kita bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan ruang belajar bersama menuju peradaban yang beradab. Wallahu A’lam

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar