Menulis Jejak Perjuangan: Aku dan 'Aisyiyah dalam Lintasan Sejarah Bekasi

2026-01-08 20:27:34 | Diperbaharui: 2026-01-08 20:27:34
Menulis Jejak Perjuangan: Aku dan 'Aisyiyah dalam Lintasan Sejarah Bekasi

 Luaran Training Inspiratif Tulis Artikel (TInTA) Seri AKU DAN ‘AISYIYAH

Oleh Nur Fadhliyah

Anggota Aisyiyah kota Bekasi

Rasa syukurku kepada Allah mendorongku untuk menulis tentang kenikmatan yang telah Allah berikan kepadaku sejak kecil hingga aku menapaki usia senja dan masih aktif dalam organisasi Aisyiyah. Begitu banyak kemudahan yang kurasakan dalam hidup ini, tidak seimbang dengan kesulitan yang kudapat dalam perjalanaan hidup bila dibandingkan dengan orang yang begitu tertatih-tatih dalam mengarungi kehidupan ini. Aku bukan orang kaya namun semoga Allah menggolongkan aku sebagai manusia yang kaya hati, yang mampu berlega hati, mampu berbagi dengan penuh keikhlasan dan mampu hidup bersama dengan khalayak pada umumnya tanpa melihat tingginya pendidikan yang dimiliki dan banyaknya harta yang terlihat.

Aku terlahir dari seorang ibu bernama Rukiah yang ketika remaja sudah berstatus sebagai ustadzah di kampung. Kampung itu bernama Tambun, lokasinya di pinggir jalan dekat SD Negeri 1 Tambun Kabupaten Bekasi, Ayahku bernama Arsyad Nawawi orang Bekasi Asli, kampung itu  disebutnya kampung Bekasi bulak. Kedua orang tuaku memberiku nama Nur Fadhliyah. Sejak kelahiranku pada tanggal 6 Januari 1961 mereka berharap anak yang diberi nama Nur Fadhliyah bisa menjadi orang yang memiliki  keutamaan sesuai arti kata tersebut dalam bahasa Arab. Semua kakak dan adikku diberi nama berbahasa Arab dengan arti yang bagus-bagus, mereka adalah Dimrotul ulya, Ahya Yumna, Nurhayati, Mu’ayyanah Fauziyah, Ahmad Sofwan, aku Nur Fadhliyah, dan adikku si  kembar Fudhola dan Fudholi.

Akupun bersyukur karena ayah ibuku sangat mementingkan pendidikan anak  dan memasukkanku ke sekolah Muhammadiyah meski mereka tidak berijazah pendidikan formal yang tinggi dan bukan anggota Muhammadiyah, pendidikan yang didapat anak-anak kakekku adalah pendidikan nonformal keagamaan dengan mengaji kepada kyai atau guru ngaji di lingkungan dan pendidikan umumnya adalah Sekolah Rakyat.

Aku mengenal organisai ‘Aisyiyah sejak aku dimasukkan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah di Bekasi di jalan ki Mangun Sarkoro 45 Bekasi timur, disana aku mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Lima orang kakakku semua bersekolah di PGA, ayah ibuku bertujuan agar anak-anaknya bisa jadi guru buat keluarganya nanti meski tidak jadi tuan guru di sekolah. Ternyata benar dari enam anak yang sekolah PGA ada tiga orang kakak perempuanku yang jadi pendidik di rumah  dan tiga orang jadi guru PNS termasuk aku jadi guru Bahasa Arab dan mengajar Agama di SMA dan sempat ikut jadi dosen di UMJ dan IBM Bekasi.

Aku masuk PGA mulai tahun 1974, kepala sekolahnya bernama bapak Dalijo asal Yogyakarta dan wakilnya bapak Abd. Rauf asal Bima, keduanya jadi tokoh Muhammadiyah dan istrinya sebagai anggota Aisyiyah.  Sangat mengesankan bersekolah di PGA Muhammadiyah selama enam tahun dari tamat SD sampai tamat tingkat SLTA. Untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab, sore hari aku belajar juga di Madrasah Annida al Islami pimpinan KH. Muhajirin, disana semua pelajaran menggunakan kitab berbahasa Arab, aku belajar sorogan di depan kyai dengan membaca kitab dan menterjemahkan, tidak seperti di PGA metodenya.

PGA Muhammadiyah adalah sekolah kader Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bekasi, meski bangunannya sederhana sekali, seperti bangunan SD Muhammadiyah dalam film Laskar Pelangi di Gantong Sumatra. Kami di PGA bahkan pernah belajar melingkar di meja pingpong karena kekurangan meja belajar, kalau istirahat mejanya dipakai main, namun begitu kami tetap ceria dan tetap berprestasi baik intra maupun ekstra, gguru-gurunya rajin dan konsekwen meski gajinya kecil. Sangat mengesankan.

Di PGA Muhammadiyah aku dikenalkan dengan organisasi  Muhammadiyah mulai dari IPM; Ikatan Pelajar Muhammadiyah, aku  aktif sampai jadi pengurus Daerah IPM Bekasi dengan ketua Cecep Qodaruddin, jadi Pengurus Wilayah DKI dengan ketua Ali Thaher Parasong, terakhir tahun 1980 aku jadi Pengurus Pusat IPM dengan ketua Masyhari Makasi sebagai pengganti mas Busyro Muqoddas dan teman-teman pengurus PPIPM lainnya seperti Khoiruddin Bashori dan  Haidar Nasir dan kakak Ipmawati Siti Nurjannah Johantini.

Sambil jadi pengurus IPM aku diharuskan aktif sebagai anggota Nasyiatul Aisyiyah di Bekasi sebagai kader Aisyiyah dibawah binaan ibu-ibu Aisyiyah seperti ibu Halimatussa’diyah atau ibu Hasbullah, ibu Afiah Subki dan ibu Lili Hambali. Akhirnya tahun 1985 aku menggantikan ibu Rosyidah Ibrahim menjadi ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah bersama bu Eldawati sebagai sekretaris, aku menjalaninya dengan nyaman saja. Pembinaan kader Nasyiatul Aisyiyah  secara resmi disebut Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah, intinya kita dibina menjadi kader Aisyiyah yang matang dan penuh dedikasi. Aku terus aktif di pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah DKI dan pada tahun 2000 aku masuk jadi pengurus Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah sebagai pengurus kantor Jakarta bersama sekertaris Risnawati dan bendaharanya Tati Rokhanawati berkantor di Menteng Raya 62 Jakarta. Pada saat itulah aku mendapat hadiah sangat berharga sebagai pengurus pusat Angkatan Muda Muhammadiyah yakni umroh gratis untuk 25 orang AMM yang diusahakan oleh ketua PP Pemuda Muhammadiyah Imam Addaru Qutni. Pimpinan Pusat Aisyiyah yang ikut mendampingi adalah Prof. Hamamah  bersama sekretarisnya dan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah bapak Muhammad Moqoddas.

Di Bekasi sering terlihat olehku ibu-ibu mengadakan pengajian tiap hari jumat di gedung baru depan sekolah PGA Muhammadiyah. Rupanya itu pengajian Aisyiyah Daerah Bekasi yang menjadi cikal bakal pengembangan Aisyiyah di Bekasi.  Ibu-ibu yang mengaji itu rupanya istri-istri para pengurus Muhamadiyah, mereka sudah memiliki gagasan untuk berhimpun dalam bentuk pengajian kaum ibu sejak sekitar tahun 1970an,  awalnya mereka mulai merealisasikan gagasan tersebut dalam bentuk pengajian yang diajar oleh Ibu Halimatussa’diah istri bapak Dadang Hasbullah Ketua PDM dengan lokasi pengajiannya di Balai Pemuda Muhammadiyah di samping Stasiun Kereta Api Bekasi, aku kenal Balai Pemuda Muhammadiyah dari kakakku yang lebih dulu jadi aktifist IPM dan biasa berkumpul di Balai Pemuda tersebut walaupun letaknya dekat dengan jalan kereta namun sangat bermanfaat untuk pusat kegiatan organisasi.

Ibu-ibu Aisyiyah sangat memperhatikan pembinaan generasi muda, mereka melaksanakan kegiatan keputrian bagi para siswi PGA Muhammadiyah Bekasi sebagai kegiatan perkaderan. Anak-anak pelajar putri PGA dijadikan kader Nasyiatul Aisyiyah yakni organisasi putri-Putri Aisyiyah. Salah satu pelajar yang dikader oleh ibu Afiah Subki dan ibu Lili Hambali tiap hari jum’at sebagai Nasyiatul Aisyiyah adalah aku sendiri bersama beberapa teman,  pada akhirnya aku menjadi Ketua Nasyiatul Aisyiyah Bekasi periode 1985-1990 menggantikan ketua Nasyiatul Aisyiyah sebelumnya yakni ibu Rosyidah Ibrahim guru Mts Muhammadiyah Bekasi.

Kader-kader Aisyiyah Bekasi tidak dilepaskan oleh ibu-ibu, ketika aku masih  aktif Nasyiatul Aisyiyah, ibu Diniyah Ahmad Luddin sebagai ketua PDA ketiga menugaskan aku jadi Sekretaris Majelis Pendidikan, saat itu aku baru menikah dengan suami yang sangat mendukung dengan semua kegiatanku di organisasi, suamiku bernama Ibnu Hajar Arasy. Sejak saat itu aku terus berada di PDA dengan jabatan berikutnya sebagai sekretaris PDA pada saat periode ibu Nurjanah lalu sebagai ketua Majelis Kader pada periode ibu Dalilah dan  akhirnya aku dipercaya menjadi Ketua Aisyiyah Bekasi menggantikan ibu Dalilah selama dua periode. Banyak kegiatan bervariasi yng dilakukan Aisyiyah untuk menguatkan organisasi.

Aku sangat senang dapat kesempatan aktif di organisasi Aisyiyah, banyak pelajaran yang kudapatkan di sini baik tentang organisasi, kepemimpinan maupun pembinaan keagamaan dan keterampilan lainnya. Karirku sebagai guru SMA sama sekali tidak terganggu. Selama aktif aku jadi kenal bahwa ‘Aisyiyah adalah satu Organisasi Perempuan Islam berskala nasional, bergerak di berbagai aspek kehidupan, yang  hadir guna menjawab kebutuhan masyarakat dalam membangun bangsa. Aku dikenalkan bahwa Aisyiyah adalah organisasi di dalam Muhammadiyah, statusnya sebagai Organisasi otonom khusus yang bisa bergerak sama dinamisnya seperti Muhammadiyah. Dalam sejarah terlihat KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sangat menghargai potensi perempuan yang bisa diandalkan untuk sama-sama membina masyarakat, sehingga akhirnya dalam sejarah tercatat bahwa ‘Aisyiyah disyahkan pendiriannya oleh sang kyai pada tanggal 27 Rajab 1335 H / 19 Mei 1917, salah satu aktifitsnya tentu istri Sang Kyai yaitu Nyai Walidah.

Sekarang, mendengar nama ‘Aisyiyah rasanya mesra sekali, sebuah Nama yang  dahulu diusulkan KH Fachrudin sebagai nama organisasi perempuan Muhammadiyah yang merujuk pada nama istri Nabi Muhammad SAW yaitu ‘Aisyah yang dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, terkader dengan baik menjadi ummul mu’minin. Kyai Ahmad Dahlan dan kawan-kawan ingin agar para aktivis Aisyiyah dapat  meniru sifat-sifat baik ‘Aisyah putri Abu Bakar ash-Shiddiq dan mempunyai jiwa dan kualitas dan semangat yang sama dengan ‘Aisyah istri Rasulullah.

‘Aisyiyah sebagai ortom Muhammadiyah terus merambah ke seluruh Indonesia termasuk ke Bekasi, gerak dakwahnya memiliki tujuan menjunjung tinggi dan menegakkan ajaran Islam hingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar- benarnya.  Dengan demikian  organisai Aisyiyah Bekasi terus bergerak mengembangkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi pengembangan dan peningkatan kualitas hidup perempuan di Bekasi. Kegiatan paling utama yang harus dimiliki oleh Aisyiyah di Cabang dan Ranting adalah pengajian, yakni kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas keagamaan dan keilmuan lebih luas karena di dalam pengajian Aisyiyah dapat diahas berbagai aspek kehidupan.

Untuk meningkatkan kualitas para anggota Aisyiyah bidang organisasi, ada pembinaan yang disebut Baitul Arqam, disana dibahas tentang keorganisasian, kepemimpinan da ideologi organisasi. Tiap pergantian periode selalu ada kegiatan pembinaan organisasi melalui Baitul Arqam. Aku selalu mengikuti kegiatan tersebut baik ketika masih jadi pengurus Nasyiatul Aisyiyah maupun ketika sudah jadi pengurus Aisyiyah, pada periodeku Baitul Arqam pernah dilaksanakan di Puncak Bogor, mengesankan sekali.

Aku mengikuti sendiri perkembangan Aisyiyah di Bekasi dari periode ke periode sejak masuk sekolah Muhammadiyah, ketika aktif di IPM aku sering mengadakan kegiatan training Taruna Melati, untuk kebutuhan konsumsinya minta dari ibu-ibu Aisyiyah berupa Nasi bungkus, ibu-ibu Aisyiyah kelihatan senang dapat membantu anaknya, lalu akupun aktif di NA serta  IMM. Anak IMM Bekasi di tahun 1980an merupakan perkumpulan mahasiswa keluarga Mhuhammadiyah yang berkuliah di berbagai perguruan tinggi, aku salah satu mahasiswa dari IKIP Jakarta, senang sekali rasanya berkegiatan dengan para mahasiswa yang berlainan kampus namun bersatu dalam IMM Bekasi. Anak-anak IMM pernah beraudensi ke rumah Ibu Halimatussa’diyah istri bapak Dadang Hasbullah ketua PDM saat itu, beliau memberi wejangan dan nasihat yag sangat menyentuh bagi para kader.

Ibu Halimatussa’diyah adalah Ketua Aisyiyah pada Periode pertama di Bekasi, tahun 1970 – 1975 namun terus aktif pada periode selanjutnya. Sebagai ketua ‘Aisyiyah beliau sangat senang dengan generasi muda yang siap menjadi pelanjut perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang aku ada didalamnya, beliau selalu aktif mengajar di pengajian para istri pengurus Muhammadiyah Bekasi dan mencari  kader Nasyiatul Aisyiyah sebagai pelanjut Aisyiyah, pada saat itu Aisyiyah belum memiliki amal usaha, namun semangat kebersamaan dan kemajuan terpancar dari jiwa para ibu-bu Aisyiyah.

Pada Periode kedua tahun 1976 - 1980 dan Periode 1980 – 1985 hingga 1985-1990 Kepemimpinan Aisyiyah dipimpin oleh  Ibu Afiah istri  dr. Subki Abdul Kadir, dibantu ibu Halimah Sa’diyah  sekretarisnya adalah ibu Halimah Lukman. Secara pribadi aku merasakan rasa sayangnya bu Afiah Subki kepadaku sebagai kader. Beliau hadir saat pernikahanku, aku juga selalu diajak untuk ikut serta kegiatan Aisyiyah baik di Bekasi maupun di Jakarta, salah satunya aku diajak ikut pengajian di mesjid Al-Azhar Jakarta, pengajian Rutin Aisyiyah DKI, aku disuruh tilawatil qur’an, aku dijadikan kader intilan sampai disaat sudah aktif Asyiyah aku diminta mengisi kultum di pengajian Aisyiyah Al-Azhar, dari sana aku diminta ikut lomba pidato dakwah di pameran Istiqlal tahun1993, aku dapat juara satu dan diberi piala  oleh menteri penerangan bapak Harmoko, itu adalah prestasi anggota Aisyiyah Bekasi yang didorong oleh PWA DKI.

Aku melihat ibu Afiah Subki sangat kuat jiwa perjuangannya dalam mengembangkan Aisyiyah,  dibuktikan dengan terus aktif melaksanakan pengajian ibu-ibu bersama ibu Halimatussadiyah dan menggerakkan amal usaha bidang pendidikan dan ikut aktif bekerja sama dalam kegiatan GOW. TK yang didirikan pada masa kepemimpinan ibu Afiah Subki adalah:

1.     TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal di Jl Ki Mangunsarkoro 45 yang merupakan TK Aisyiyah pertama  di Bekasi dan mendapat nomor 44 dari PWA DKI

2.     TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 72 Perumnas 2 Bekasi selatan

3.     TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 81 perumahan Margahayu Bekasi timur

4.     TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Perumnas 1 Bekasi

5.      TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal  Perumahan Tityan Bekasi Barat

6.     TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 91 Rawalumbu

 Sayangnya ada TK yang tidak bisa bertahan, semua TK Al[isyiyah di Bekasi mendapat nomor dari PWA DKI karena Aisyiyah Bekasi berafiliasike DKI Jakarta bukan ke Jawa barat.

Aku sering datang ke rumah bu Afiah Subki sebagai anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah yang sedang dibina dalam pengajian di rumahnya, sampai akhir hayatnya beliau sangat senang kalau aku datang ke rumahnya bersama ibu-ibu Aisyiyah yang lain, disebut-sebutnya namaku sebagai kader beliau sejak masih pitik. Beliau keren sekali, semangat membangun Aisyiyahnya sangat kuat terutama mengembangkan bidang pendidikan, peluang fasilitas sosial di perumahan-perumahan cepat ditangkap, salah satunya di perumahan Margahayu dan perumnas 2, beliau datang ke pengembang dan yang punya wewenang untuk mengambil Fasos menjadi lokasi TK Aisyiyah. Tiap ada yang datang untuk bersilaturrahim beliau selalu memberi motivasi dan kritik membangun, yang diingatkan antara lain agar kita hati-hati terhadap kegiatan kristenisasi terselubung harus dibendung baik melalui bidang pendidikan maupun kesehatan dan kepedulian sosial. Pada masanya juga pernah dilakukan Kursus Muballighat Aisyiyah yang bertujuan membina para muballighat Aisyiyah di Bekasi, pimpinan kursusnysnya adalah ibu Fauziah Sul salah seorang pejuang Aisyiyah. Sungguh mengesankan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk pemberdayaan perempuan ini.

Aku juga berada di Aisyiyah Bekasi Periode tahun 1990 – 1995 yakni kepemimpinan Ibu Diniyah Ludin,  beliau seorang ibu yang penyabar, karirnya sebagai kepala sekolah SD di Bekasi, beliau adalah istri dari ketu PDM, bu Diniyah menjabat sebagai Ketua Majelis Pendidikan  pada satu periode sebelumnya.  Anaknya berjumlah sepuluh namun keluarganya damai dan semua anaknya berpendidikan tinggi sehingga pemerintah memberi penghargaan kepadanya sebagai ibu teladan Bekasi. Anak pertama beliau menjadi ketua Majelis Pendidikan Aisyiyah Daerah Bekasi, namanya Asna Suarni Luddin karirnya sebagai Kepala SD juga dan aku mendampinginya sebagai sekretaris Majelis Pendidikan saat itu, beberapa kunjungan ke TK Aisyiyah dilakukan dalam rangka pembinaan.

 Pada Periode kepemimpinannya, ibu Diniyah Ludin wafat pada tahun 1992 dilanjutkan oleh Ibu Dra. Siti Nurjanah, yang terus memimpin ‘Aisyiyah pada periode tahun 1995 – 2000. Ibu Siti Nurjanah yang asli kelahiran Pati-Jawa tengah pada tanggal 12 Juli 1952 adalah seorang perempuan pekerja keras, penuh kreatifitas dan penuh kepedulian.  Ibu Siti Nurjanah adalah  pemimpin TK Aisyiyah pertama di Bekasi. Murid TK. ‘Aisyiyah Bustanul athfal 44 yang beliau pimpin sejak tahun 1979 pada masanya sudah mencapai seratus murid. Ketika beliau jadi Ketua PDA aku dipercaya sebagai Sekretaris. Semangat berjuangnya sangat tinggi, mengispirasi para anggota Aisyiyah lainnya. Melalui ide dan gagasannya pula ‘Aisyiyah bisa memiliki Gedung Dakwah sendiri di Jl. Agus Salim Ganda Agung tempat diadakannya pengajian Aisyiyah Daerah tiap jumat dan kegiatan lainnya. Ketua PWA DKI ibu Roslimah Wahid pernah datang untuk turba ke lokasi ini. Bapak Wakil Walikota Bekasi pernah datang kesana untuk mengesahkan berdirinya PPKS; Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera, namun mulai tahun 2020 setelah masa Covid,  penanganan gedung dakwah tersebut diserahkan kepada PCA Bekasi Timur 1 yang digunakan untuk lokasi TK Aisyiyah 82 dan pengajian ibu-ibu Aisyiyah Bekasi timur 1

Aku juga tetap ikut aktif di Aisyiyah Bekasi Periode tahun 2000 – 2005 dibawah kepemimpinan Ibu. Hj.Dalilah, suami beliau adalah Ketua PDM yakni Bapak Drs. H.A Rauf,H.M yang menjabat dua periode sebagai Ketua Muhammadiyah Kabupaten Bekasi. Bu Dalilah adalah pionir, seorang perempuan Bekasi berpendidikan yang ikut aktif dalam organisasi perempuan Aisyiyah beliau berperan aktif mengembangkan organisasi.

Pada masanya sulit mendapatkan perempuan asli Bekasi yang mau aktif di organisasi Aisyiyah, beliau juga merupakan seorang guru yang mengajarku di sekolah PGA Muhammadiyah dan terakhir beliau mengajar di MA serta SMA Muhammadiyah Bekasi hingga Purna bakti. Komitmennya untuk mengembangkan organisasi membuatnya selalu menegur Majelis-Majelis untuk bergerak dalam kegiatan sosial keagamaan, pendidikan dan kesehatan serta melakukan penguatan dan pembinaan terhadap ranting-ranting di Kabupaten Bekasi untuk mendukung seluruh gerak dan langkah ‘Aisyiyah, saat itu aku menjadi Ketua Majelis Kader dan Pengembangan Sumber Daya Insani. Aku sangat menghormatinya, aku sering ngobrol pribadi dengan beliau, orang yang sederhana, sabar dan agamis. Anaknya berjumlah sepuluh orang, beberapa diantaranya menjadi aktifist Muhammadiyah dan Aisyiyah seperti putrinya yang namanya mirip denganku, Ade Nur Fadhilah.

Musyawarah Daerah Aisyiyah 2006 mengamanatkanku untuk menggantikan ibu Dalilah menjadi Ketua PDA periode 2005 – 2010 dengan sekretaris ibu Eldawati. Aku sangat bersemangat di Aisyiyah dan didukung penuh oleh suamiku yang kerja sebagai karyawan Pemda. Suamiku sering mengantar ibu-ibu Aisyiyah dalam kegiatan sosial seperti ketika bazar dan bantuan sosial di daerah Setu atau memberikan bantuan di tempat bencana kebanjiran di Bekasi bagian utara kampung Muara hingga ke Muara gembang.  Periode berikutnya 2010 – 2015, aku dipilih lagi jadi Ketua PDA kota Bekasi dengan didampingi sekretaris yakni ibu Yayah Nurafiah, seorang sekretaris yang pintar dan gesit. Pada saat ini PCA sudah bertambah dari lima menjadi 9 Cabang yakni;

1.     PCA Bekasi Timur 1

2.     PCA Bekasi Barat

3.     PCA Bekasi Selatan

4.     PCA Bekasi Utara

5.     PCA Perumnas 1Bekasi

6.     PCA Pondok Gede

7.     PCA Rawa Lumbu

8.     PCA Pejuang Medan satria

9.     PCA Bekasi timur 2

Semua ketua PCA adalah para pejuang Aisyiyah, aku sangat salut kepada para ibu yang semangatnya begitu besar, ada lomba penilaian administrasi Cabang, lomba menyanyikan lagu mars Aisyiyah saat Milad, dan kegiatan lain  yang menggambarkan semangat berorganisasi.  

Pada periode kepemimpinanku ini terjadi Pemisahan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah karena terkait pemekaran Kabupaten Bekasi menjadi Pemerintah kabupaten dan Pemerintah Kota, dengan demikian‘Aisyiyah pun mengalami perubahan struktur Organisasi, berubah menjadi PDA Kota Bekasi dan PDA Kabupaten Bekasi.

Alhamdulillah Aisyiyah  Bekasi jadi lebih berkembang, aku sebagai orang yang aktif di kota Bekasi berubah menjadi Pengurus Kota sedangkan pengurus Kabupaten dipimpin oleh temanku ibu Fitri, seorang aktifist muda yang mempunyai jiwa sosial dan semangat yang tinggi. Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Bekasi tetap beralamat di jalan Ki Mangun Sarkoro 45 Bekasi Timur karena lokasi organisasi ada di Pemerintahan Kota dan  membawahi PCA-PCA di Kota Bekasi sedangkan PDA Kabupaten Bekasi yang  resmi terbentuk pada tahu 2007 meliputi seluruh kecamatan se Kabupaten Bekasi dengan wilayah cakupan yang sangat luas dangan alamat sekretariat di perkantoran Metland Tambun selatan.

Pada periode ini pula terjadi pemindahan afiliasi kepemimpinan organisasi Aisyiyah dari bergabung ke Aisyiyah Wilayah DKI Jakarta menjadi bergabung ke Aisyiyah Jawa Barat,  kata ibu Roslimah; Aisyiyah Kota dan Kabupaten Bekasi diserahkan ke ibu kandungnya PWA Jawa Barat yang saat itu diketuai oleh ibu Mutiah Umar disaksikan oleh ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah ibu Noorjannah Johantini yang sedang melakukan pembinaan pada saat Musypimwil Aisyiyah Jawa Barat. Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Bekasi  segera menginduk kepada Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa barat. Perpindahan ini dilakukan demi ketertiban organisasi dan efektifitas pembinaan Daerah ‘Aisyiyah dimana secara struktur pemerintahan kota dan Kabupaten Bekasi berada dibawah pemerintahan Propinsi Jawa Barat.

Aku sedih juga berpisah dengan Aisyiyah DKI karena sejak aktif IPM dan NA selalu bersama DKI, banyak kenangan indah dalam berkegiatan di Jakarta, banyak teman ipmawan dan ipmawati, kenal baik dengan bapak-bapak PWM dan ibu-ibu PWA sampai akhirnya aku jadi pengurus PWA DKI bersama Erna Hasan dan teman-temanku lainnya. sampai sekarang masih tetap akrab dan berkumpul dalam grup alumni NA DKI, alumni NA yang sudah jadi Aisyiyah.

Kepindahan Aisyiyah dari DKI ke Jawa Barat tidak mempengaruhi aktifitas organisasi, bahkan di bidang sosial Aisyiyah mampu mengkordinir pemilikan dua gedung panti Asuhan Aisyiah untuk putra dan untuk putri.

Setelah periode kepemimpinanku berakhir di Bekasi aku digantikan oleh kader Aisyiyah berikutnya yang bernama Enny Pristini , seorang kader militan yang pantas diandalkan untuk memimpin Aisyiyah di kota Bekasi. Periodenya  tahun 2015 sampai 2020 namun diperpanjang oleh Pimpinan Pusat menjadi tahun 2022 disebabkan oleh mundurnya kegiatan muktamar selama 2 tahun akibat Covit.  Perkemangan Aisyiyah terlihat semakin meningkat dan tertata. Aku tetap aktif di Aisyiyah kota Bekasi membersamai teman-teman, kegiatan majelis-majelis terlihat terus menggeliat. Bu Enny pun terpilih lagi untuk yang kedua kalinya sebagai ketua PDA untuk periode 2022-2027, kegiatan beliau tidak hanya menggiring agar Aisyiyah terlihat semakin dikenal di masyarakat melalui Cabang Ranting namun beliau juga aktif di Gabungan Organisasi Perempuan Bekasi dengan kegiatan yang bervariasi di tingkat Kota. Saat ini beliau dipercaya menjadi Wakil ketua GOW, Ketua Perwala dan di MUI menjadi ketua komisi Pemberdayaan Perempuan,  aku sendiri di MUI aktif di Komisi Fatwa bersama para kyai.

Kerjasama PDA kota Bekasi dengan pihak luar nampak semakin banyak, antara lain bidang kesehatan yang bekerjasama dengan salah satu Yayasan menangani pembinaan hidup sehat di daerah Bantar gebang. Begitu pula dengan gerak pada majelis-majelis dan Lembaga lainnya.

Sampai saat ini aku masih semangat beraisyiyah, selain masih sebagai pengurus bidang Tabligh di Daerah aku bersama Eldawati juga aktif sebagai Pengurus di Pimpinan Pusat Aisyiyah Majelis Pendidikan yang dipimpin oleh ibu Fitniwilis yakni sebuah majelis yang sangat strategis di Aisyiyah karena ikon Aisyiyah yang sangat kuat bergerak dalam bidang pendidikan terutama Pendidikan Anak Usia Dini berupa Taman-Kanan-Kanak Aisyiyah Bustanul athfal yang sudah mencapai dua puluh ribu  di seluruh Indonesia.

Untuk mewujudkan keinginan ibuku yang sederhana semasa hidup yakni ingin punya madrasah maka aku bersama kakak-kakak mewakafkan sepetak tanah warisan dari ibuku kepada Aisyiyah Kabupaten Bekasi yang lokasinya di belakang kantor kecamatan Tambun Selatan, sisi timur GOR, alhamdulillah sekarang sudah terwujud gedung TK Aisyiyah dan ruang pengajian ibu-ibu.

Harapanku Aisyiyah di Bekasi akan terus berkembang maju dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat guna meningkatkan kualitas hidup perempuan dan keluarga, mampu beradaptasi dan berinovasi sesuai perkembangan zaman, mampu menjadi contoh bagi  organisasi perempuan lainnya dalam meningkatkan kualitas masyarakat Bekasi, terus berjuang dengan berani dan mandiri, bisa bekerjasama dengan berbagai pihak guna menguatkan langkah organisasi juga meningkatkan kualitas organisasi hingga berpengaruh di masyarakat dan memotivasi anggota Aisyiyah untuk terus menjadi perempuan berkemajuan di Bekasi. Semoga Allah selalu memberi pertolongan untuk terus berjuang lillahi ta’ala.

 

 

 

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar