Kotekatalk-154: Sekilas Ungaran dan Kalau Guru Rapat, Muridnya Bagaimana?
Minggu ini kita ke Ungaran (dok. Catbury/Haray Studio)

Kotekatalk-154: Sekilas Ungaran dan Kalau Guru Rapat, Muridnya Bagaimana?

Mulai : Minggu, 3 Desember 2023 16:00 WIB
Selesai : Minggu, 3 Desember 2023 16:40 WIB
Zoom
00
00
00
00
Hari Jam Menit Detik
0 Peserta Mendaftar

Hai, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar?

Masih sehat dan bahagia?

Hari Minggu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana sudah mengajak kalian untuk jalan-jalan ke Malaysia. Mumpung masih musim durian, ada narsum mbak Gana Stegmann yang menceritakan kisahnya memakan Musang red dan Black Thorn di jalan Alor. Itu adalah food street yang menjadi magnet wisata lokal di negeri jiran.

Keinginan untuk mencicipi durian yang pastinya beda dengan durian lokal di tanah air, membuat narsum semangat untuk mengelilingi jalan Alor. Tadinya, ia memilih durian termurah di sebuah pojok. Nama duriannya Musang red. Harganya 44 RM/kg. Saat itu mbak Gana sedang bersama kawan-kawan suaminya. Iapun ditraktir sang kawan untuk menikmati durian termahal di sana, Black Thorn yang satu kilonya 99 RM. Memakannya pasti rasanya beda. Selain teksturnya lembut, ternyata BT ini memiliki rasa anggur yang kuat. Baru mencoba beberapa saja sudah halusinasi. Rupanya aroma alkoholnya sangat kuat dan efeknya membuat ia tertawa. Seumur-umur belum pernah mencoba tapi menurutnya sekali saja sudah cukup. Ia lebih menyukai memakan Musang red yang habis segelondong saja tetap aman alias nggak mabuk. Ini sama halnya dengan durian lokal yang pernah disantapnya sebanyak 5 gelondong. Waktu itu, ada syukuran pemecahan rekor tumpeng raksasa di lapangan Simpang Lima Semarang. Mas Didik, sang ketua mentraktir panitia untuk makan durian Semarang sepuasnya. Durian Gunungpati yang terkenal murah meriah dan buahnya merekah itu, nggak membuatnya mabuk. Aman.

Setelah pemutaran video instagram reel dari mbak Gana yang jalan-jalan di jalan Alor dan pas memakan durian, narsum kedua membagikan informasi mengenai durian. Di layar, mbak Repa Kustipia memamerkan durian lokal yang baru saja dijolok. Durian rasa kopi yang karena penanamannya dengan sistem tumpang sari, dengan pohon kopi, membuat aromanya mampir ke tetangga. 

Kata mbak Repa, orang yang suka makan durian adalah orang yang bahagia. Alasannya, golongan ceria ini akan banyak mengkonsumsi antioksidan yang ada di dalam buah durian. Pakar gastronomi itu menyarankan untuk hati-hati dengan durian yang kuat alkoholnya. Ia menunjuk sebuah buku yang memberi informasi bahayanya makanan haram dalam tubuh manusia. Perempuan berkacamata itu juga mengatakan bahwa durian akan terpengaruh dengan temperatur udara di mana ia dibuka. Jadi, hati-hati waktu buka, ya.

Dari Malaysia, Mimin ajak kalian kembali ke tanah air untuk mempromosikan wisata lokal. Ada Sulistyani, S.Pd. Guru Swasta itu akan mengisahkan kepada kita bagaimana sejuknya kota yang dekat dengan Semarang atas itu. Selain itu sebagai guru, ia akan membagikan pengalamannya bagaimana kalau ia dan guru lain harus rapat. Siapa yang mengurusi murid-murid? Apa yang akan mereka informasikan kepada orang tua? Apakah  benar seperti kata pak Jokowi bahwa banyak guru yang terserang stress? Betulkah guru adalah pekerjaan yang berat? Apa pendapat para guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia?

Untuk mengetahui jawabannya, Koteka dan himpunan Alumni UPGRIS tahun 2001 akan mengundang kalian untuk hadir pada:

  • Hari/Tanggal: Minggu, 3 Desember 2023
  • Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 10.00 CET Berlin
  • Link: DI SINI

"Ke Bogor jangan lupa mampir ke istana. Di Bogor ada bunga Raflesia. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita bangkitkan pariwisata Indonesia."

Jumpa Minggu.

Salam Koteka. (GS)

 

0 Peserta Mendaftar


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar